Batal Pamit

Gak ada hubungannya sih, tapi setiap tanggal 23 Juli, pas Hari Anak Nasional, saya selalu ingat sama motor saya ini. Motor Suzuki Shogun 110 yang saya beli 14 tahun lalu dengan benar-benar dari gaji pertama sebagai PNS. Saat itu harganya 9 jutaan, saya bayar cash 5 juta, sisanya akan saya cicil.

Chemistry antar saya dan motor ini sebenarnya sudah terasa sebulan setelah tanggal itu. Saya dinyatakan sebagai salah satu pemenang hadiah motor Suzuki Satria (dobel gear, salah satu yang keren pada masa itu, harganya hampir setengah kali lebih mahal dari motor yang saya beli tadi) dari kupon undian pembelian bulan sebelumnya. Jadi, beli motor dapat motor. Dealer-nya menyarankan agar Satria yang saya ambil, tapi saya menolak. Hadiah motor itu saya uangkan, uangnya dipake untuk melunasi sisa cicilan, sisanya saya belikan mesin cuci untuk orang tua. O iya, mesin cuci itu juga masih bertahan sampai hari ini. Barakallah.

Sedari awal beli, ingin juga saya mendandani motor ini dengan variasi dan aksesoris biar keren kayak motor orang-orang itu, di-racing. Tetapi sebagai yang bukan penggemar otomotif saya tidak mengerti bagian apanya yang penting untuk saya upgrade. Batal. Jadi cukuplah saya memperhatikan kebutuhan lahir bathinnya saja. Lahir, dengan rutin mengganti oli, memeriksa aki dan memastikan tankinya selalu terisi bensin. Bathin, dengan melunasi pajak di setiap hari ulang tahunnya. Alhamdulillah, sampai hari ini kondisi mesin motor itu tetap prima.

Motor ini semacam menjadi saksi beberapa momen penting dalam hidup saya. Setia menemani saat wakuncar, bersama rombongan kendaraan lain ikut mengantarkan saat lamaran dan nikahan, siaga kapan saja saat harus bolak-balik ke rumah sakit menjelang anak pertama lahir, mengantar-jemput anak sekolah dan beberapa tugas rutin lain sehari-hari.

Namun momen paling heroiknya saat dia menemani saya menyelesaikan sekolah di kota lain. Tidak pernah rewel dan nyusahin saya (misalnya tiba-tiba mogok di jalan), kalopun bannya mendadak bocor atau kempes di perjalanan, itu cuma beberapa meter saja dekatnya dengan bengkel atau tukang tambal ban.

Ada suatu ketika yang melankolis bagi saya, mungkin ini berlebihan. Beberapa hari setelah saya menyelesaikan sekolah, saya mengantarkan kembali motor ini ke jasa kurir, untuk dikirim kembali ke kota saya. Motor ini dinaikkan ke bagian belakang bus AKAP, armada kurir itu, diikat kencang. Saat bus itu akan berlalu, seolah-olah motor itu berkata,

“Oke, sudah ya, tugas saya di sini sudah selesai. Saya pulang duluan, mungkin di rumah nanti saya masih diperlukan”.

 

Kerongkongan saya tercekat, saya terharu sendiri.

***

Beberapa tahun kemudian, saat sudah punya rezeki untuk membeli kendaraan yang lebih besar, saya bermaksud menjual motor ini. Selain karena sudah jarang dipake dan urusan maintenance-nya, alasan utamanya karena tidak ada lagi tempat yang cukup luas untuk memarkirnya di garasi. Tidak butuh waktu lama, iklan penjualan dari mulut ke mulut itu segera mendapat tanggapan. Ada seorang calon pembeli yang sudah deal untuk cash on delivery (bayar di tempat) dengan harga 5 juta.

Setelah motornya dia test drive, periksa mesin sedikit, calon pembeli itu lalu siap membayar. Dia sedang mengeluarkan uang cash dari dalam tasnya, saat saya menoleh melihat motor itu. Dan somehow, seketika saya memutuskan untuk membatalkan transaksi itu. Saya ternyata masih sayang sama motor itu, belum rela berpisah. Emotional value pada motor itu sepertinya menjadi penyebabnya. Saya minta maaf ke calon pembeli tadi, dia kecewa tapi mau mengerti dengan penjelasan saya.

Kini setelah 14 tahun, motor ini masih bersama saya. Sudah lebih banyak istirahatnya. Sesekali saja dipake untuk jalan-jalan keliling kompleks rumah, atau untuk keperluan yang dekat-dekat. Biarlah dia berakhir di parkirannya situ, terus di situ hingga nanti teronggok sebagai besi tua, bersama semua kenangan hidup yang pernah saya jalani bersamanya.

***

You May Also Like