Memesona. Bukan Mempesona

Salah satu jobdesc seorang dosen adalah melakukan pembimbingan tugas akhir (skripsi) kepada mahasiswanya. Bagian dari pembimbingan tersebut adalah memeriksa naskah skripsi, sejak dari skripsi tersebut dalam bentuk naskah usulan (proposal), naskah laporan hasil penelitian, hingga naskah skripsinya sendiri.

​Sebenarnya pekerjaan ini tidaklah seberapa berat. Tapi akan mulai melelahkan ketika mahasiswa bimbingan seolah-olah menjadikan pembimbingnya sebagai editor naskah, yang harus memeriksa kata-per-kata, kalimat-per-kalimat dan hal redaksional lainnya dalam naskah skripsinya.

Misalnya, jika dosen mengoreksi satu kata yang keliru penulisannya dalam satu halaman, maka mereka cuma memerbaiki kesalahan pada halaman itu saja. Kesalahan serupa di halaman-halaman lain tidak dibetulkan. Hal ini akan menyita waktu dan energi dosen sehingga pemeriksaan bagian yang jauh lebih penting -yaitu konten (isi) tulisan-, menjadi luput. Selain itu, tentu saja, masa pembimbingan yang menjadi lebih lama karena bolak-balik sibuk membetulkan kesalahan yang sama berulang-ulang. Cape deh. :p

Kebanyakan mahasiswa cenderung untuk ber’masa bodo’ (atau terlalu malas?) sehingga enggan untuk mencari tahu, misalnya mana kata/istilah yang baku atau penulisan kata berimbuhan yang benar. Mengenai penulisan kata berimbuhan ini, ada kesalahan berjamaah dan turun-temurun yang sering sekali saya jumpai. Dan sudah cukup bikin gerah. Yaitu, mana huruf dari suatu kata yang melebur ketika mendapat imbuhan tertentu. Kompetensi saya bukanlah di bidang tata bahasa ini, tapi setidaknya saya akhirnya mengetahui hal tersebut dari pengalaman dan pengamatan ketika membaca.

​Misalnya, seringkali mereka menulis MEMPUNYAI, padahal bentuk bakunya MEMUNYAI. Atau menulis MENGKONSUMSI, padahal semestinya MENGONSUMSI.

Jadi bagaimana? Ada aturan sederhana untuk ini.

Kata-kata yang diawali huruf K, T, S dan P akan melebur jika mendapat imbuhan me-, me-i, ataupun me-kan. Dengan syarat, huruf kedua setelah huruf K, T, S dan P dalam kata tersebut adalah huruf vokal (a, i, u, e, o). Selain itu, tidak melebur.

Jadi semestinya kita menulis kata MEMESONA, bukan MEMPESONA. MENGOORDINASI, bukan MENGKOORDINASI. MENABULASI, bukan MENTABULASI. Dan sudah benar kalau kita menuliskan MENSYARATKAN, bukan MENYARATKAN. Dan lain-lain yang semacam itu.

Cmiiw. 🙂

You May Also Like