Pergi, Datang Lagi


Waktu masih kecil dulu saya selalu mengira deja vu itu semacam mantra, kegiatan sihir-menyihir atau hal semacam itu, dari negara di Afrika. Saya dikelirukan dengan voodoo yang terdengar mirip kala itu. Padahal sangat berbeda artinya.

Ini kutipan tentang deja vu hasil googling saya:

Déjà Vu adalah perasaan ketika kita yakin pernah mengalami atau menyaksikan suatu kejadian sebelumnya, kamu merasa peristiwa itu sudah pernah terjadi dan berulang lagi. Hal ini diikuti dengan perasaan familiar yang kuat, takut dan merasa aneh. 
Sampai usia akhir SMA, saya sering mengalami deja vu ini. Ketika lagi bermain atau ngobrol bersama teman-teman, tidak jarang saya tiba-tiba berhenti, lalu mengajak teman untuk diam sejenak, bersamaan dengan saya yang mencoba mengingat kapan peristiwa seperti saat itu pernah terjadi sebelumnya, yang saya yakin memang pernah saya alami entah kapan, di masa lalu.

Baiklah, yang akan saya kisahkan berikut ini mungkin deja vu juga, atau variannya, terserahlah apa namanya. Mungkin juga bukan.

Tahun 2007, di bulan-bulan pertama saya bersekolah di Makassar, saya menyeberangkan motor saya menggunakan jasa kurir. Menurut informasi petugasnya, motor itu bisa saya ambil di perwakilan bus antar kota antar provinsi (AKAP) (sebagai armada kurir) mereka di Jl. Sarappo, sebuah kawasan di sekitar Pelabuhan Nusantara, Makassar.

Berangkatlah saya pada hari yang dijanjikan. Saya beberapa kali kesasar di daerah kota lama Makassar saat itu, sampai suatu ketika saya mampir bertanya ke seorang bapak setengah tua yang tidak memakai baju dan sedang duduk berjongkok mengupas kelapa di depan rumah (yang kelihatannya darurat, banyak berjejer semacam itu di sepanjang jalan itu).

“Tabe, Pak… Kalo tempatnya mobil-mobil langsung yang dari Kendari mangkalnya di mana dih, katanya di Jalan Sarappo?”
“Oh terus ki saja jalan ini, nanti di simpang depan belok kiri, nda jauh mi dari situ” , jawabnya.

Saya akhirnya mendapatkan tempat yang saya cari dan menyelesaikan segala urusan di situ.

***

Tahun 2011 setelah selesai masa kuliah, saya akan mengirim kembali motor itu ke Kendari, maka saya akan kembali menggunakan jasa kurir mobil langsung tadi. Berangkatlah saya ke kawasan pangkalannya. Tapi karena jalanan di daerah situ saling silang dan banyak blok-blok bangunan, saya kesasar lagi. Mutar satu-dua kali pake motor yang akan saya kirim, belum juga ketemu. Sampai akhirnya saya mampir dan bertanya ke seorang bapak yang sedang duduk di depan gubuknya.

“Tabe, Pak… Kalo ke Jalan Sarappo lewat mana ini dih, yang tempatnya mobil-mobil langsung dari Kendari?” 
“Oh terus ki saja jalan ini, nanti di simpang depan belok kiri, nda jauh mi dari situ” , jawabnya.
“O iye, terima kasih. Mari ki”, pamit saya.

Baru beberapa meter berjalan saya mendadak teringat, merasa familiar dengan jawaban bapak tadi. Bulu kuduk saya meremang di sore hari itu. Saya menoleh memperhatikan, bapak itu lagi mengisap rokoknya sambil memandang lurus ke depan, ke tembok-tembok bangunan di seberang jalan rumahnya, bajunya tidak dipakai tapi cuma diselempangkan ke salah satu pundaknya. Saat itu saya tidak bisa ingat pasti apakah bapak itu juga orang yang empat tahun lalu tempat saya bertanya. Sewaktu mengarahkan pandangan ke bawahnya, saya melihat di kaki bapak itu ada sebilah parang dan sebutir kelapa yang belum selesai dikupasnya.


You May Also Like